
Jakarta -Merdeka itu, jika tak lagi terdengar dentum bom dan deru mesiu. Bayangan umum tentang merdeka, seperti diceritakan zaman kakek dulu, karena bangsa ini berhasil mengusir penjajah dengan bambu runcing. Begitu heroik dan membanggakan. Tapi tak sekadar bersenjata bambu, para pejuang itu meneteskan darah dan peluh dengan ketulusan. Perjuangan tanpa pamrih, agar anak bangsa ini, memiliki identitas kebangsaan bernama Indonesia.
Ada juga yang bilang, merdeka jika tak lagi subur ketimpangan sosial. Tegaknya hukum, keberpihakaan pada yang lemah, dan penguasa yang adil. Merdeka juga, jika hak-hak rakyat terpenuhi, dan keadilan untuk semua. Merdeka juga, jika rakyat hidup aman, tak dihantui horor, teror, dan teroris. Tapi merdeka, bukanlah kebebasan yang membolehkan manusia membunuh manusia lainnya. Juga bukan alasan, penguasa bertindak sewenang-wenang.
Kita, telah memaknai merdeka selama ini dengan bendera berkibar, panjat pinang, balap karung, dan aktivitas menggembirakan lainnya. Tapi, harus diakui, kadang kita juga kerap kurang tepat meresapi nilai-nilai kemerdekaan.
Memaknai kemerdekaan, kita dapat memetik hikmah dari para Nabi dalam membebaskan manusia dari penindasan. Seperti Nabi Musa, ketika membebaskan bangsanya dari penindasan Firaun. Rezim Firaun merupakan representasi komunitas yang menyombongkan diri dan sok berkuasa di muka bumi.
Keangkuhan rezim penguasa ini membuat mereka tak segan membunuh dan memperbudak kaum laki-laki dan menistakan kaum perempuannya. Keangkuhan inilah yang mendorong Musa, tergerak memimpin bangsanya, untuk membebaskan diri dari penindasan.
Demikian juga, dengan kisah sukses Nabi Muhammad dalam memegang tampuk kenabian, menjadi inspirasi tak pernah habis bagi kita untuk memaknai kemerdekaan. Tatkala diutus 14 abad silam, Rasulullah menghadapi sebuah masyarakat yang mengalami tiga penjajahan sekaligus: disorientasi hidup, penindasan ekonomi, dan kezaliman sosial.
Disorientasi hidup wujudnya, dalam penyembahan patung oleh masyarakat Arab Quraisy. Sementara penindasan ekonomi, dijelaskan Al-Quran sebagai sesuatu yang membuat kekayaan hanya berputar pada kelompok-kelompok tertentu saja. Rasulullah mengkritik orang-orang yang mengumpulkan dan menghitung-hitung harta, tanpa memedulikan kesejahteraan sosial dan keadilan ekonomi (QS Al-Humazah:1-4; Al-Maa’uun:2-3).
Rasulullah mengkampanyekan pembebasan budak dan kesederajatan bangsa-bangsa. Dalam khutbah terakhirnya di Arafah, saat haji wada’, beliau menegaskan bahwa tak ada perbedaan antara hitam dan putih, antara Arab dan non-Arab. Semuanya sama di mata Tuhan. Tidak ada celah yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya, kecuali tingkat ketakwaan mereka kepada Tuhan-Nya (QS Al-Hujuraat:13).
Jika kita merasakan apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad, mungkin itulah makna merdeka sejati sebuah bangsa. Wallahua’lam.
*) M Anwar Sani, Al-Azhar Peduli